99 photography best media photography

27/02/11

Menemukan prefensi fotografi February


Mulai saat ini blog 99 Photogrphy akan lebih berwarna dengan hadirnya tulisan-tulisan dari orang yang tidak asing buat kita semua, Mas Tantyo Bangun. Beliau yang pernah menjabat sebagai Editor In Chief Majalah National Geographic Indonesia akan berbagi tentang dunia fotografi berdasarkan pengalaman beliau selama ini. 
Berikut tulisan pertama dari mas Tantyo tentang menemukan preferensi fotografi. Selamat menikmati
Di tengah kehadiran teknologi informasi digital, kita menghadapi “content explosion”, mulai dari teks, foto, audio hingga video membanjiri relung-relung kehidupan kita. Sebagai gambaran, di situs berbagi fotografi online Flickr, tiap hari ada foto membanjiri situs itu (ada yang menyebut 4.000 foto/ menit hingga 3 juta-5 juta foto/ hari). Belum lagi di Facebook dan situs-situs lain. Di Youtube, tiap menit rata-rata 24 jam video yang diupload (jika frame rate video secara umum 30 frame/ detik itu sama dengan 3,7 milyar lebih still frame/ hari di upload).
Tentu ada yang bependapat, apa pengaruhnya bagi kita untuk belajar fotografi? Banyak sekali. Yang terutama, dengan begitu mudahnya orang memotret, terkadang justru membuat mereka “tersesat secara visual”. Para peminat fotografi tidak menemukan jalan setapak yang jelas menuntun ke arah pembelajaran yang benar tentang fotografi.
Jika kita mengamati forum-forum berbagi pendapat, perdebatan yang muncul seolah menunjukkan semua pendapat benar asal disertai dengan tehnik argumen yang baik. Demikian pula mengenai gambar yang baik. Terkadang pendapat yang satu menunjukkan genre foto ini baik, lalu ada pula yang menyebutkan foto seperti itu yang sedang tren.
Pada akhirnya, kita harus kembali pada pegangan bahwa fotografi adalah selera pribadi. Jika kita ingin memulai proses pembelajaran, langkah pertama adalah mengetahui selera dan kesukaan kita akan fotografi. Bagian mana, bentuk seperti apa, mood seperti apa, hingga subyek seperti apa yang menarik kita. Bagi hal-hal seperti itulah layak kita curahkan perhatian untuk mendalaminya.
Banyak yang bertanya, mengapa tidak berbicara tehnik memotret dahulu? Buat saya, di era digital ini tehnik menjadi nomer dua. Nomer satu adalah visi. Tehnologi fotografi digital di masa kini sudah sangat memanjakan penggunanya. Ibaratnya, memotret dengan mata terpejam pun pasti jadi :) .  Kurva pembelajarannya menjadi berbeda sama sekali di banding era fotografi analog.
Saya beruntung masih mengalami proses memotret secara profesional dengan media film negatif dan transparansi (slides), sehingga merasa sangat dimudahkan dengan teknologi fotografi digital masa kini. Bagi mereka yang tidak mengalami itu, tentu tidak terlalu mensyukurinya. Tapi percayalah, dengan perkembangan teknologi, tehnik foto bisa dipelajari sambil jalan.
Kembali ke visi pribadi, bagaimana menemukannya? Salah satu cara yang paling sering saya sarankan ke beberapa rekan adalah mempertajamnya dengan menggunakan preferensi visual. Kumpulkan foto-foto favorit, bisa dari mana saja: majalah, koran, flickr, internet secara umum. Jangan terlalu banyak, dan jangan terlalu sedikit. Sekitar 50 hingga 100 foto mungkin ideal.
Kumpulkan foto-foto yang benar-benar disukai. Setelah itu bentangkan dalam tampilan thumbnails yang agak besar (bisa menggunakan Picasa atau yang sejenisnya) dan review secara keseluruhan. Pelajari foto-foto itu dan temukan benang merahnya. Apakah mempunyai kesamaan subyek? Apakah karena kecemerlangan warnanya? Sudut pengambilan? Atau karena pesan atau makna dari foto itu sendiri.
Anda sendiri yang harus mencari dan menemukan. Bagaimana cara untuk melakukan seleksi, penajaman dan bisa menangkap benang merah preferensi fotografi atau visual? Kita akan bahas dalam posting berikutnya.
Catatan: artikel ini juga bisa ditemukan di blog pribadi Tantyo Bangun:http://tantyobangun.tumblr.com

terima kasih sudah membaca blog di 99 photography

Tidak ada komentar: